Rabu, 21 Oktober 2009

Salma dan Qonita: Menulis untuk Rp 500


Tidak semua anak mendapat uang saku berlebih dari orangtuanya, termasuk Salma dan Qonita. Ketika masih bersekolah di Solo tahun 2002 saudara kembar tersebut tidak pernah membawa uang jajan, sebab teman-teman di sekolahnya kebanyakan seperti itu, tidak membawa uang ke sekolah.


Setelah pindah ke Jakarta tahun 2003, teman-teman sekelas penulis cilik kembar tersebut membawa uang saku semua. Salma dan Qonita pun ingin punya uang saku. Orangtua mereka membuat syarat, jika ingin uang saku Salma dan Qonita harus menulis cerita dahulu. Satu cerita akan dihargai Rp 500,- Di tahun itu Rp 500,- lumayan lho.

Karena iming-iming uang saku tersebut, Salma dan Qonita bersemangat menulis. “Satu anak dalam sehari bisa bikin 1-3 cerita,” ungkap Pak Hanjaeli di catatan Facebooknya, Ayah Qonita dan Salma. Lama kelamaan baik Qonita maupun Salma ketagihan menulis cerita meskipun tidak mendapat imbalan uang lagi. “Alhamdulillah sekarang keduanya rajin menulis dan sudah punya buku,” ujar Pak Hanjaeli bangga.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Salut....

Edwin mengatakan...

Wah cara mendidik yang kreatif...

Posting Komentar

Menulislah ! Walau Hanya Sanggup Dengan Tanda Tanya.